Perencanaan struktur gedung 5 lantai dengan sistem SRPMK (Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus) merupakan salah satu tantangan utama dalam praktik rekayasa struktur di Indonesia, terutama pada wilayah dengan tingkat kegempaan menengah hingga tinggi. Pendekatan ini menuntut integrasi antara teori dinamika struktur, ketentuan standar nasional, serta pemodelan numerik menggunakan perangkat lunak analisis seperti SAP2000. Selain itu, proses desain tidak hanya berorientasi pada kekuatan (strength), tetapi juga pada daktilitas, disipasi energi, dan kinerja struktur saat terjadi gempa rencana.
Dalam praktiknya, perencanaan SRPMK tidak dapat dipisahkan dari regulasi teknis yang berlaku. Hal ini menjadi penting karena kesalahan dalam memahami filosofi desain tahan gempa dapat berdampak pada mekanisme kegagalan yang tidak diinginkan. Pada konteks perencanaan gedung bertingkat menengah, seperti gedung 5 lantai perkantoran, rumah sakit, atau bangunan pendidikan, pendekatan berbasis standar menjadi landasan utama untuk menjamin keselamatan pengguna dan keberlanjutan fungsi bangunan pascagempa.
“Dalam pembahasan ini digunakan SNI 1726:2019 Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung, SNI 1727:2020 Beban Minimum untuk Perancangan Bangunan Gedung dan Struktur Lain, serta SNI 2847:2019 Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung sebagai acuan utama dalam perencanaan dan pelaksanaan.”
Artikel ini disusun secara sistematis dengan pendekatan akademis-terapan, menggabungkan teori mekanika struktur, tahapan desain teknis, serta praktik pemodelan dan analisis menggunakan SAP2000, sehingga relevan bagi praktisi teknik sipil, konsultan perencana, maupun kontraktor pelaksana.